Mengenal Laras dalam Musik Karawitan

Musik adalah salah satu bentuk ekspresi budaya yang paling universal. Dalam dunia musik, istilah tangga nada tentu sudah tidak asing lagi. Tangga nada merupakan dasar dari sebuah melodi yang membentuk struktur musikal dalam sebuah lagu.

Dalam musik Barat, kita mengenal dua jenis tangga nada utama, yaitu Mayor dan Minor. Tangga nada Mayor umumnya digunakan dalam lagu-lagu yang memiliki nuansa ceria, sedangkan tangga nada Minor cenderung menghasilkan suasana yang lebih sedih atau melankolis.

Namun, dalam musik tradisional Indonesia, khususnya karawitan Jawa, istilah yang digunakan untuk tangga nada sedikit berbeda. Dalam karawitan, tangga nada dikenal dengan istilah “laras”, yang secara struktur dan filosofi memiliki keunikan tersendiri. Dua laras utama yang digunakan dalam karawitan adalah laras Pelog dan laras Slendro.

Secara musikal, laras merupakan susunan nada dalam satu oktaf, dimulai dari nada dasar hingga kembali ke nada yang sama di tingkat oktaf berikutnya. Sebagai perbandingan:

  • Dalam musik Barat, susunan nada dalam satu oktaf membentuk pola:

Do, Re, Mi, Fa, Sol, La, Si, Do

  • Sedangkan dalam musik karawitan Jawa Timur, salah satu susunan nada dalam laras Slendro adalah:

Nem, Ji, Ro, Lu, Ma, Nem

Perbedaan ini menunjukkan bahwa meskipun secara fungsi keduanya serupa, yaitu sebagai kerangka nada, istilah laras dalam karawitan dan tangga nada dalam musik Barat memiliki pendekatan dan sistem notasi yang berbeda.


Laras dalam Karawitan

Secara sederhana, laras dapat diartikan sebagai susunan nada dari nada terendah hingga tertinggi dalam satu oktaf, yang menjadi dasar dalam memainkan musik tradisional seperti gamelan atau gending.

Jenis-Jenis Laras

Dalam karawitan, dikenal dua jenis laras utama, yaitu:

  • Laras Pelog
  • Laras Slendro

Kedua laras ini menjadi fondasi utama dalam sistem nada musik tradisional Jawa dan Bali, serta memiliki karakteristik dan cita rasa musikal yang berbeda.

Perbedaan Antara Pelog dan Slendro

Perbedaan paling mendasar antara laras Pelog dan Slendro terletak pada jarak antar nada (interval). Berikut perbandingannya:

Sistem NadaJarak Nada dalam Satu Oktaf
Mayor (Barat)1 – 1 – ½ – 1 – 1 – 1 – ½
Minor (Barat)½ – 1 – 1 – 1 – ½ – 1 – 1
Slendro1 – 1 – 1 – 1 – 1
Pelog1 – 1 – ½ – 1 – 1 – 1 – ½

Keterangan:

  • Angka menunjukkan jarak nada dalam satuan nada, bukan not mutlak.

Susunan Nada dalam Laras:

  • Laras Pelog: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
  • Laras Slendro: 1, 2, 3, 5, 6

Laras Slendro memiliki lima nada (pentatonik), sedangkan laras Pelog memiliki tujuh nada (heptatonik), meskipun tidak selalu semua nada dimainkan dalam satu gending.

Susunan nada ini merupakan dasar dari tangga nada karawitan, tetapi belum termasuk ke dalam mode atau skala lagu, yang dalam karawitan dikenal sebagai pathet.


Mode atau Skala dalam Karawitan (Pathet)

Dalam musik Barat, kita mengenal istilah “mode” atau “skala” untuk menunjukkan penggunaan nada-nada tertentu dalam suatu lagu. Dalam musik karawitan, konsep ini dikenal dengan istilah pathet.

Apa itu Pathet?

Pathet adalah sistem penggunaan dan penekanan nada-nada tertentu dalam laras yang digunakan, dan berfungsi sebagai penanda suasana atau rasa dari sebuah gending. Setiap laras memiliki pathet-pathet tersendiri, yang membedakan satu gending dengan gending lainnya, meskipun nadanya berasal dari laras yang sama.

Jenis-jenis Pathet dalam Laras Slendro (Jawa Timur):

Berikut adalah tiga pathet utama dalam laras Slendro yang digunakan dalam karawitan Jawa Timur:

  1. Pathet 8
    Menggunakan nada-nada: 2, 1, 6, 5
  2. Pathet 9
    Menggunakan nada-nada: 3, 2, 1, 6
  3. Pathet Serang
    Menggunakan nada-nada: 1, 6, 5, 3

Setiap pathet membawa suasana dan karakter berbeda. Pemilihan pathet tidak hanya memengaruhi melodi, tetapi juga mempengaruhi struktur lagu dan nuansa emosionalnya.


Penutup

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa:

  • Laras adalah dasar dari tangga nada dalam musik tradisional Indonesia, terutama dalam karawitan.
  • Laras Pelog dan Slendro memiliki susunan dan jarak nada yang unik, berbeda dengan sistem tangga nada Barat.
  • Pathet adalah sistem mode atau skala dalam musik karawitan yang mengatur penggunaan nada dalam sebuah gending.
  • Pemahaman terhadap laras dan pathet sangat penting untuk dapat mengapresiasi serta memahami struktur, rasa, dan makna musik tradisional Indonesia, khususnya dalam karawitan Jawa Timur.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *